Badan intelijen Amerika Serikat mengungkap temuan baru terkait strategi militer Iran selama perang. Dalam laporan terbaru, Teheran disebut menggunakan senjata palsu sebagai umpan untuk mengecoh serangan Washington dan Israel.
Sejumlah pejabat AS yang mengetahui laporan tersebut menyebutkan bahwa hingga kini pemerintah Amerika masih belum dapat memastikan berapa banyak peluncur rudal asli milik Iran yang benar-benar berhasil dihancurkan sepanjang konflik berlangsung.
Temuan ini menambah keraguan atas klaim keberhasilan operasi militer AS dan Israel. Meski Pentagon dan Gedung Putih sebelumnya menyatakan telah mencatat kemajuan signifikan, badan intelijen AS menilai kemampuan rudal Iran belum sepenuhnya lumpuh.
Dalam pengarahan resmi pekan lalu, Pentagon mengklaim telah menyerang sekitar 11.000 target di Iran selama lima pekan terakhir. Namun di lapangan, Iran dilaporkan masih aktif meluncurkan rudal balistik dalam jumlah besar setiap hari.
Berdasarkan perkiraan pejabat AS, Iran masih mampu menembakkan sekitar 15 hingga 30 rudal balistik per hari. Kondisi ini memunculkan dugaan bahwa sebagian besar peluncur rudal Iran masih selamat dari serangan.
Intelijen AS meyakini Iran sengaja menyembunyikan peluncur rudalnya di bunker dan gua bawah tanah untuk menghindari serangan udara. Strategi ini dinilai sebagai upaya mempertahankan kemampuan tempur agar Iran tetap bisa memberi tekanan jika perang berlangsung lebih lama, maupun setelah konflik mereda.
Laporan dari media Israel, Haaretz, juga pernah menyebut Iran menggunakan buldoser untuk menggali kembali peluncur rudal yang disimpan di bawah tanah. Langkah tersebut diduga menjadi bagian dari taktik bertahan sekaligus menjaga kesiapan serangan balasan.
Isu mengenai penggunaan senjata palsu oleh Iran sebenarnya sempat ramai dibahas di media sosial sejak awal perang pecah. Pada awal Maret, beredar berbagai unggahan yang menyebut Iran memakai pesawat dan tank palsu buatan China untuk mengelabui serangan AS dan Israel.
Salah satu video yang viral menyebut taktik semacam ini bukan hal baru dalam peperangan modern. Dalam konflik Rusia-Ukraina, penggunaan tank palsu dan umpan visual juga disebut pernah dilakukan untuk mengacaukan pengamatan musuh.
Beberapa model umpan itu disebut dibuat dari material sederhana seperti kayu dan kain agar menyerupai kendaraan tempur, sementara model lain dirancang lebih canggih, termasuk tank tiup yang ringan dan mudah dipindahkan.
Temuan intelijen AS ini menunjukkan bahwa perang modern tidak hanya ditentukan oleh kekuatan senjata, tetapi juga oleh kemampuan menipu lawan di medan tempur. Bagi Iran, penggunaan senjata palsu tampaknya menjadi bagian dari strategi untuk mengurangi kerugian dan menjaga aset militernya tetap aman.

