Hot Topics

Serangan Gabungan AS-Israel ke Iran Meluas, Infrastruktur Militer Jadi Target Utama

Serangan gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap sejumlah wilayah di Iran pada Sabtu (28/2) pagi dilaporkan memiliki cakupan yang lebih luas dibandingkan operasi terhadap fasilitas nuklir Iran pada Juni tahun lalu. Laporan ini disampaikan oleh harian ternama AS, The New York Times (NYT), yang mengutip sejumlah pejabat pemerintah dan militer.

Menurut laporan tersebut, fokus utama dalam gelombang serangan kali ini adalah infrastruktur militer Iran. Para pejabat AS menyebutkan bahwa target tidak hanya terbatas pada fasilitas nuklir, melainkan juga mencakup sistem pertahanan dan lokasi peluncuran rudal. Iran diyakini memiliki lebih dari 2.000 rudal, terutama jenis balistik jarak pendek dan menengah, yang tersebar di berbagai titik strategis di seluruh negeri.

Target Kepemimpinan dan Unsur Kejutan

Mengutip tiga pejabat keamanan Israel yang mengetahui detail operasi, NYT melaporkan bahwa salah satu tujuan utama gelombang pertama serangan adalah menargetkan sebanyak mungkin pemimpin kunci Iran. Strategi ini dinilai krusial untuk melemahkan komando dan koordinasi militer sejak tahap awal operasi.

Para perencana serangan disebut berupaya mempertahankan unsur kejutan, setidaknya sebagian, seperti yang dilakukan dalam serangan pada Juni tahun lalu. Pertimbangannya, pejabat senior Iran harus disasar sebelum sistem keamanan diperketat dan mobilisasi pertahanan dilakukan secara penuh, yang dapat mempersulit operasi lanjutan.

Kritik dari Kongres AS

Di Washington, langkah militer tersebut memicu reaksi dari sejumlah anggota Kongres. Jack Reed, anggota Demokrat teratas di Komite Angkatan Bersenjata Senat, disebut tidak menerima pemberitahuan sebelumnya mengenai serangan tersebut. Juru bicaranya menyampaikan kepada NYT bahwa Reed tidak mendapatkan pengarahan sebelum operasi dimulai.

Dalam pernyataan pada Jumat sebelum serangan dilancarkan, Reed mengingatkan bahwa “jika perang tidak diperlukan, maka harus dihindari.” Ia menegaskan bahwa Kongres tidak menerima pengarahan intelijen yang memadai terkait kemungkinan serangan tersebut. Meski mengakui Iran sebagai ancaman serius dan destabilisasi bagi AS serta sekutunya, Reed menyebut pemerintahan belum menyampaikan pembenaran strategis yang jelas untuk melakukan serangan pendahuluan.

Operasi ‘Lion’s Roar’ dan Pernyataan Trump

Israel meluncurkan operasi militer tersebut pada Sabtu dini hari dengan nama sandi ‘Lion’s Roar.’ Pemerintah Israel juga menetapkan status keadaan darurat “khusus dan segera” di seluruh wilayahnya sebagai langkah antisipatif terhadap potensi serangan balasan.

Presiden AS saat itu, Donald Trump, kemudian menyatakan bahwa Amerika Serikat telah memulai “operasi tempur berskala besar” di Iran. Pernyataan tersebut mempertegas keterlibatan langsung Washington dalam eskalasi terbaru konflik dengan Teheran.

Sebagai latar belakang, pada Juni tahun lalu, Amerika Serikat menyerang tiga lokasi nuklir Iran menjelang akhir perang 12 hari antara Israel dan Iran. Serangan terbaru ini dinilai sejumlah analis sebagai peningkatan signifikan dalam dinamika konflik kawasan, dengan risiko eskalasi yang lebih luas di Timur Tengah.

Dengan menargetkan infrastruktur militer dan figur kepemimpinan sekaligus, operasi gabungan AS-Israel ini berpotensi mengubah peta keamanan regional dan memperdalam ketegangan geopolitik global.

Tags :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recent News