Hot Topics

Serangan Balasan Guncang Israel dan Negara-Negara Teluk

Konflik Iran-Israel kembali memanas setelah Israel menewaskan dua pejabat senior keamanan Iran. Teheran merespons dengan serangan rudal ke Israel dan sejumlah negara Arab di kawasan Teluk, memicu kekhawatiran baru terhadap stabilitas Timur Tengah dan pasokan energi global.

DUBAI — Eskalasi perang Iran-Israel memasuki babak yang semakin berbahaya setelah Israel menewaskan dua pejabat senior keamanan Iran dalam serangan udara terbaru. Serangan itu disebut menjadi pukulan berat bagi struktur kekuasaan Republik Islam di tengah konflik yang terus meluas dan menimbulkan kekhawatiran internasional terhadap keamanan kawasan serta pasokan energi dunia.

Dua tokoh yang tewas adalah Ali Larijani, sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, dan Jenderal Gholam Reza Soleimani, kepala Basij, pasukan sukarelawan di bawah Garda Revolusi Iran. Keduanya dikenal sebagai figur penting dalam sistem keamanan Iran dan disebut memiliki peran besar dalam penindakan terhadap gelombang protes domestik yang mengguncang pemerintahan Tehran pada awal tahun ini. Iran telah mengonfirmasi kematian kedua pejabat tersebut.

Larijani selama ini dipandang sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh di Iran, terutama setelah konflik besar yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat pecah pada akhir Februari 2026. AP melaporkan bahwa ia diyakini mengambil peran sentral dalam menjalankan arah pemerintahan Iran setelah serangan sebelumnya menewaskan sejumlah figur puncak negara itu. Sementara itu, Gholam Reza Soleimani memimpin Basij sejak 2019 dan selama bertahun-tahun dikaitkan dengan upaya penumpasan aksi-aksi oposisi di Iran.

Pemerintah Israel secara terbuka menyatakan operasi tersebut merupakan bagian dari strategi untuk melemahkan rezim Iran. Menteri Pertahanan Israel Israel Katz mengatakan Larijani dan Soleimani telah “dieliminasi” dalam serangan semalam. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu juga menyebut operasi itu bertujuan merusak fondasi rezim Iran agar rakyat Iran memiliki peluang untuk menyingkirkan pemerintahan yang berkuasa. Namun hingga kini belum ada tanda-tanda protes besar di dalam negeri Iran sejak perang dimulai, ketika sebagian besar warga lebih fokus mencari perlindungan dari serangan udara.

Sebagai balasan, Iran meluncurkan rentetan rudal ke Israel pada Rabu. Sirene serangan udara terdengar di sejumlah wilayah Israel bagian tengah, termasuk kawasan Tel Aviv. Ledakan juga dilaporkan terdengar di sekitar kota tersebut. Layanan medis Israel, Magen David Adom, melaporkan sedikitnya dua orang tewas di Ramat Gan, kawasan di sebelah timur Tel Aviv, akibat serangan tersebut.

Tidak hanya menyasar Israel, Iran juga meningkatkan tekanan terhadap negara-negara Arab di kawasan Teluk. Arab Saudi, Kuwait, Uni Emirat Arab, dan sejumlah negara lain dilaporkan menghadapi serangan rudal serta drone Iran. Sebagian besar serangan disebut berhasil dicegat sistem pertahanan udara, tetapi insiden itu tetap memperlihatkan meluasnya dampak konflik ke negara-negara tetangga yang sebelumnya berusaha menjaga jarak dari konfrontasi langsung. Di Dubai, ledakan terdengar pada Rabu dini hari, yang kemudian oleh otoritas setempat dijelaskan sebagai hasil intersepsi pertahanan udara.

Perkembangan ini langsung memicu kekhawatiran serius di pasar energi global. Ketegangan meningkat karena Iran menegaskan tidak berniat melepaskan cengkeramannya atas Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi salah satu urat nadi distribusi minyak dunia. AP melaporkan bahwa pada hari normal sekitar seperlima perdagangan minyak dunia melewati selat tersebut. Gangguan terhadap jalur ini berpotensi menekan pasokan energi internasional dan mendorong kenaikan harga minyak lebih jauh.

Situasi di sekitar Selat Hormuz memang menjadi salah satu sumber kekhawatiran terbesar dalam perang ini. Iran menyatakan jalur itu secara teknis tetap terbuka, tetapi tidak bagi Amerika Serikat, Israel, dan sekutu-sekutunya. Sejumlah kapal dilaporkan telah terdampak serangan, sementara militer Amerika Serikat melalui Central Command menyebut telah menggempur lokasi-lokasi rudal Iran di dekat pesisir yang dinilai mengancam pelayaran internasional.

Presiden AS Donald Trump juga menyatakan frustrasi karena seruannya agar negara-negara sekutu membantu mengamankan Selat Hormuz tidak mendapat dukungan yang memadai. Dalam laporan AP, Trump disebut meminta beberapa negara untuk mengirim kapal perang guna memastikan jalur pelayaran itu tetap aman, tetapi sebagian besar sekutu belum menunjukkan komitmen nyata. Sikap serupa datang dari Eropa. Kepala diplomasi Uni Eropa Kaja Kallas menegaskan blok tersebut tidak ingin terseret ke dalam konflik dengan Iran dan menilai perang itu bukan perang Eropa.

Di tengah kekhawatiran akan meluasnya konflik, Badan Energi Atom Internasional atau IAEA juga mengeluarkan peringatan. Lembaga itu menyebut telah menerima laporan dari Iran bahwa kompleks pembangkit listrik tenaga nuklir Bushehr terkena proyektil, meski tidak ada korban jiwa dan fasilitas tersebut dilaporkan tidak mengalami kerusakan. IAEA kembali menyerukan penahanan diri maksimum demi mencegah risiko kecelakaan nuklir yang dapat membawa dampak jauh lebih besar bagi kawasan.

Sementara itu, medan konflik juga terus meluas ke Lebanon. Militer Israel melanjutkan serangan terhadap target-target yang dikaitkan dengan kelompok Hezbollah, sekutu Iran. Serangan di distrik Nabatiyeh, Lebanon, dilaporkan menewaskan tiga orang dan melukai satu lainnya. Tim penyelamat masih melakukan pencarian terhadap sejumlah warga yang hilang. Krisis kemanusiaan di Lebanon pun makin memburuk, dengan lebih dari satu juta orang dilaporkan mengungsi akibat serangan yang berkelanjutan.

Korban jiwa dalam konflik ini terus bertambah. AP melaporkan lebih dari 1.300 orang tewas di Iran sejak perang dimulai pada 28 Februari 2026. Di Lebanon, jumlah korban juga terus meningkat, sementara di Israel sedikitnya belasan orang tewas akibat serangan rudal Iran. Selain itu, korban juga dilaporkan berasal dari personel militer Amerika Serikat, memperlihatkan bahwa konflik ini kini telah berkembang menjadi krisis regional dengan dampak lintas negara.

Pembunuhan Ali Larijani dan Gholam Reza Soleimani menandai fase baru dalam strategi Israel yang kini secara terang-terangan menargetkan pucuk kepemimpinan dan simbol keamanan internal Iran. Di sisi lain, respons Teheran yang meluas ke Israel dan negara-negara Teluk menunjukkan bahwa perang ini tidak lagi terbatas pada dua pihak utama, melainkan berpotensi mengguncang keseimbangan geopolitik Timur Tengah secara keseluruhan. Kekhawatiran terhadap keamanan energi, stabilitas kawasan, dan risiko eskalasi yang lebih luas kini menjadi perhatian utama dunia internasional.

Tags :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recent News