Hot Topics

Malam Berdarah di Tel Aviv: Rudal Hipersonik Iran Hantam Pusat Komando, Sistem Pertahanan Israel Kewalahan

TEL AVIV – Pemandangan langit Tel Aviv yang biasanya gemerlap mendadak berubah merah darah pada Kamis (5/3/2026) dini hari. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) melancarkan serangan rudal hipersonik besar-besaran yang menargetkan jantung pertahanan Israel, memicu kepanikan massal dan suara sirine yang meraung-raung di seluruh penjuru kota .

Serangan yang merupakan bagian dari gelombang ke-19 Operasi “Janji Sejati 4” ini tidak hanya menggemparkan warga yang harus berlarian ke bunker, tetapi juga mempermalukan sistem pertahanan udara Israel dan Amerika Serikat yang selama ini dianggap canggih. Rudal hipersonik Fattah-2, yang dikenal dengan kemampuannya yang mematikan, dilaporkan berhasil menghantam gedung Kementerian Pertahanan Israel dan Pusat Komando Pasukan Pertahanan di Tel Aviv .

“Neraka” dari Langit: Rudal Penghancur yang Tak Terhentikan

Menurut laporan yang dikutip dari Military Watch Magazine, serangan tersebut menimbulkan kerusakan signifikan. Sebuah rudal hipersonik Iran terlihat dalam rekaman warga menghantam sebuah gedung yang diduga kuat merupakan pusat komando militer Israel. Sumber menyebutkan, peristiwa nahas itu menewaskan sedikitnya 7 perwira senior Israel, menjadikannya salah satu pukulan paling telak terhadap militer Israel dalam beberapa tahun terakhir .

IRGC mengklaim telah meluncurkan rudal balistik berat Khorramshahr-4 yang membawa hulu ledak seberat satu ton ke arah Bandara Ben Gurion dan markas Skuadron ke-27 Angkatan Udara Israel yang berada di bandara tersebut . Rudal ini disebut-sebut melesat dengan kecepatan lebih dari Mach 16, membuatnya hampir mustahil untuk dicegat.

Kehebohan semakin menjadi ketika pengakuan mengejutkan datang dari dalam negeri Israel sendiri. Seorang pimpinan perusahaan senjata Israel secara blak-blakan mengakui bahwa negaranya tidak memiliki solusi untuk menghentikan rudal hipersonik Fattah-2 buatan Iran. “Sistem pertahanan AS dan Israel sudah kewalahan menghadapi serangan rudal tipe lama Iran yang tidak terbatas. Ditambah dengan rudal balistik yang melesat di kecepatan ekstrem, sistem pertahanan yang ada hampir tidak mungkin mencegatnya,” demikian pengakuan yang dikutip dari Military Watch Magazine .

Taktik Jenuh yang Mematikan

Serangan ini bukan sekadar aksi brutal, melainkan memperlihatkan kecerdasan taktis militer Iran. Analis militer menilai Iran menggunakan strategi saturasi atau serangan jenuh. Gelombang pertama serangan dipenuhi dengan drone murah seperti Shahed-136 yang berfungsi sebagai umpan untuk menguras amunisi sistem pertahanan Israel, seperti Iron Dome dan Patriot milik AS .

Setelah sistem pertahanan musuh kewalahan dan berada pada fase kritis (fatal gap), barulah Iran meluncurkan “senjata pamungkas”-nya di gelombang kedua: rudal jelajah dan rudal hipersonik Fattah yang mampu bermanuver di kecepatan tinggi. “Iran tidak perlu menang secara teknologi, melainkan cukup membuat musuh lelah, rugi, malu, dikecam dunia,” tulis Kompas.com dalam analisisnya tentang taktik ini .

Ketegangan Global Meningkat

Serangan balasan Iran ini dipicu oleh serangan pre-emptif yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari lalu, yang bahkan disebut-sebut menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei . Dunia internasional kini berada dalam siaga tinggi. Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, telah mengumumkan “fase baru perang” dan mengancam akan meluncurkan lebih banyak rudal Khorramshahr-4 ke seluruh wilayah Teluk dan Timur Tengah jika perlawanan masih berlanjut .

Hingga berita ini diturunkan, militer Israel (IDF) belum mengeluarkan pernyataan resmi mengenai jumlah korban jiwa atau tingkat kerusakan pastinya. Mereka hanya mengklaim berhasil mencegat sejumlah rudal, sebuah klaim yang langsung dibantah oleh bukti-bukti video amatir yang beredar luas di media sosial memperlihatkan ledakan besar di jantung kota Tel Aviv .

Dunia kini menahan napas, menanti apakah “neraka” yang dinyalakan di langit Tel Aviv akan membakar seluruh kawasan Timur Tengah menjadi perang regional yang lebih besar.

Tags :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recent News