Jakarta – Mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali membuat pernyataan kontroversial yang menyangkut hubungan bilateral dengan Venezuela. Dalam sebuah pidato di Florida, Trump menyatakan bahwa AS pernah melakukan serangan militer ke Venezuela dan bahwa Presiden Nicolás Maduro “ditangkap,” klaim yang segera memicu gelombang sanggahan dan kebingungan.
“Kami pernah melakukan serangan ke Venezuela. Maduro ditangkap. Itu hal yang besar,” ujar Trump seperti dilaporkan oleh berbagai media internasional, termasuk yang dikutip Antara. Pernyataan ini disampaikannya tanpa memberikan rincian waktu atau bukti lebih lanjut mengenai insiden yang ia maksud.
Bantahan dan Klarifikasi Cepat
Klaim Trump tersebut langsung mendapatkan respons keras dari pemerintah Venezuela. Menteri Komunikasi dan Informasi Venezuela, Freddy Ñáñez, membantah keras pernyataan Trump. Melalui platform X (sebelumnya Twitter), Ñáñez menegaskan bahwa pernyataan itu “palsu” dan merupakan bagian dari “kampanye propaganda” melawan negara Amerika Selatan itu.
Di sisi lain, sumber militer AS juga secara tidak langsung mengklarifikasi pernyataan tersebut. Dikutip dari The Independent, juru bicara Kementerian Pertahanan AS menyatakan tidak ada operasi militer AS baru-baru ini di Venezuela. Pernyataan ini mengisyaratkan bahwa klaim “serangan” dan “penangkapan” yang digaungkan Trump tidak memiliki dasar dalam operasi militer resmi yang diketahui publik.
Konteks Hubungan AS-Venezuela yang Berlarut
Pernyataan Trump ini muncul dalam konteks hubungan Washington-Caracas yang telah lama tegang. Selama pemerintahan Trump (2017-2021), AS menerapkan sanksi ekonomi keras terhadap Venezuela dan mengakui pemimpin oposisi Juan Guaidó sebagai presiden sementara yang sah, sambil mendesak Maduro untuk turun dari kekuasaan.
Kebijakan terhadap Venezuela mengalami pergeseran di bawah Presiden Joe Biden, dengan pemerintah AS melakukan pendekatan yang lebih hati-hati dan terlibat dalam negosiasi terbatas, termasuk pertukaran tahanan dan pembicaraan mengenai sanksi minyak.
Analisis: Strategi Politik atau Kesalahan?
Pengamat politik melihat pernyataan Trump ini kemungkinan ditujukan untuk memperkuat narasi dirinya sebagai pemimpin yang “tangguh” di mata basis pendukungnya, terutama menjelang pemilihan presiden AS. Namun, kurangnya fakta pendukung membuat klaim ini dipertanyakan banyak pihak.
Kontroversi ini menyoroti volatilitas isu Venezuela dalam politik AS dan bagaimana narasi-narasi yang belum terverifikasi dapat mempengaruhi dinamika hubungan internasional yang sudah kompleks.
Hingga berita ini ditulis, tidak ada bukti atau laporan kredibel yang mendukung klaim bahwa AS pernah melancarkan serangan militer langsung untuk menangkap Presiden Maduro. Pemerintah Venezuela tetap berkuasa, dan situasi di Caracas berjalan seperti biasa pasca pernyataan Trump tersebut.



