Ambisi besar Indonesia dan Malaysia di ajang balap dunia kembali menjadi sorotan. Seorang jurnalis Italia mengingatkan publik agar tidak terlalu cepat menaruh harapan tinggi terhadap dua talenta muda Asia Tenggara, yakni Veda Pratama dan Hakim Danish, yang saat ini sedang menapaki jalur menuju kelas Moto3.
Menurut pengamat tersebut, level kompetisi di Moto3 sangat berbeda dibandingkan ajang junior atau kejuaraan regional yang selama ini diikuti para pembalap muda dari Indonesia dan Malaysia. Perbedaan kualitas teknis, strategi balap, hingga konsistensi performa menjadi faktor utama yang membuat transisi ke level dunia tidak bisa dianggap sederhana.
Perbedaan Level Kompetisi Jadi Sorotan
Dalam penilaiannya, Moto3 bukan sekadar panggung untuk menunjukkan kecepatan, tetapi juga arena pembuktian mental, ketahanan fisik, serta kemampuan membaca ritme balapan. Banyak pembalap muda berbakat yang tampil impresif di ajang Asia atau Eropa junior, namun kesulitan ketika menghadapi tekanan kompetisi global.
Veda Pratama dinilai memiliki potensi besar berkat teknik balap agresif dan adaptasi cepat di berbagai sirkuit. Sementara itu, Hakim Danish menunjukkan perkembangan signifikan dalam konsistensi lap time dan manajemen balapan. Meski demikian, jurnalis tersebut menekankan bahwa potensi belum tentu langsung berbanding lurus dengan hasil di kelas dunia.
Pentingnya Proses dan Adaptasi
Moto3 dikenal sebagai kelas yang sangat kompetitif dengan selisih waktu antar pembalap yang sangat tipis. Faktor slipstream, strategi grup, hingga ketepatan mengambil momen overtaking menjadi penentu hasil akhir. Pembalap yang belum memiliki pengalaman menghadapi tekanan balapan dengan puluhan rider dalam satu rombongan bisa mengalami kesulitan.
Karena itu, publik di Indonesia dan Malaysia diminta memberi ruang bagi para pembalap muda ini untuk berkembang secara bertahap. Ekspektasi berlebihan dikhawatirkan justru menjadi beban psikologis yang dapat memengaruhi performa mereka di lintasan.
Dukungan Tetap Dibutuhkan
Meski mengingatkan soal realitas level kompetisi, sang jurnalis tidak menutup kemungkinan bahwa Veda Pratama dan Hakim Danish mampu berkembang pesat dalam beberapa musim ke depan. Dengan dukungan tim yang tepat, pengalaman balap yang konsisten, serta pembinaan jangka panjang, peluang untuk bersaing di papan tengah bahkan papan atas tetap terbuka.
Moto3 sendiri sering menjadi batu loncatan menuju kelas yang lebih tinggi seperti Moto2 dan MotoGP. Banyak pembalap besar dunia memulai karier mereka dari kelas ini sebelum akhirnya mencapai puncak.
Pesan utama dari pengamat Italia tersebut sederhana namun penting: tahan ekspektasi, dukung proses. Baik Indonesia maupun Malaysia memiliki talenta muda menjanjikan, tetapi perjalanan menuju prestasi dunia membutuhkan waktu, pengalaman, dan kematangan.
Dengan pendekatan yang realistis dan dukungan berkelanjutan, Veda Pratama dan Hakim Danish berpeluang menjadi representasi kuat Asia Tenggara di kancah balap motor dunia.

