Sebuah kejutan besar terjadi di kelas Moto3 pada seri perdana MotoGP Thailand 2026 di Sirkuit Buriram. Pembalap rookie asal Indonesia, Veda Pratama, langsung menjadi pusat perhatian setelah tampil gemilang sepanjang akhir pekan dan finis di posisi kelima.
Debutan berusia 17 tahun dari tim Honda Team Asia ini tidak hanya finis sebagai rookie terbaik, tetapi juga menyandang gelar sebagai pembalap Honda dengan kecepatan tertinggi di kelas ringan tersebut. Aksi luar biasanya di lintasan basah dan kering Thailand layak disebut sebagai “serangan” yang mengejutkan para kompetitor.
Sensasi dari Kualifikasi
Performa Veda Pratama sudah terlihat sejak sesi kualifikasi. Tanpa gugup, ia langsung menembus Q2 dan menempati posisi start kelima. Ia hanya terpaut 0,7 detik dari pole position, menyelip di antara dua pemenang GP Spanyol, Maximo Quiles (Aspar Team) dan David Munoz (Intact GP). Sebuah pencapaian luar biasa untuk seorang debutan.
Perang Duel di Race
Start dari posisi lima, Veda langsung tancap gas. Ia tidak hanya mampu mengikuti laju para pembalap papan atas, tetapi juga mengambil alih posisi ketiga pada putaran keenam. Rivalitas lamanya dengan pembalap Red Bull KTM Ajo, Brian Uriarte, kembali memanas di trek.
Sepanjang balapan, Veda terlibat dalam pertarungan sengit dengan grup depan yang dihuni Adrian Fernandez, Alvaro Carpe, dan Valentin Perrone. Meski sempat melakukan sedikit kesalahan di pertengahan balapan, semangatnya tidak padam. Di lap-lap akhir, ia menunjukkan mental juara dengan kembali menyalip Adrian Fernandez yang tidak lain adalah pemenang seri final musim lalu dan mengamankan posisi kelima.
Tak hanya itu, Veda Pratama finis tepat di depan musuh bebuyutannya, Brian Uriarte. Ia juga mencatatkan waktu putaran tercepat 1:41,334 menit, hanya berbeda 0,104 detik dari fastest lap yang dicatatkan Valentin Perrone.
“Attentat” di Kelas Dunia
Media internasional menyebut penampilan Veda Pratama layaknya sebuah “attentat” atau serangan tiba-tiba di kancah Moto3. Pasalnya, ia sama sekali tidak menunjukkan tekanan sebagai pendatang baru. Dalam persiapan musim dingin di Jerez, ia sudah memberi sinyal dengan mengalahkan Uriarte. Namun, performa di Thailand membawanya ke level yang sama dengan kandidat juara seperti Maximo Quiles.
Hebatnya lagi, Veda meninggalkan rekan setimnya sendiri, Zen Mitani (Jepang), dengan selisih waktu hampir setengah menit. Ia juga memastikan statusnya sebagai pembalap Honda tercepat di grid.
Rasa Syukur Seorang Roket
Usai balapan, pembalap binaan Hiroshi Aoyama ini tak banyak bicara. Senyum lebarnya sudah cukup menjelaskan perasaannya. Ia hanya bisa bersyukur dan berterima kasih kepada tim atas dukungan penuh yang diberikan.
Meski sempat mengenal sirkuit Buriram dari ajang Asia Talent Cup dan kondisi panas Thailand mungkin sedikit membantunya, pencapaian ini tetaplah sensasional. Nomor 9 telah tercatat dalam sejarah sebagai salah satu debutan paling cemerlang di kelas Moto3.
Dengan hasil ini, nama Veda Pratama bukan hanya sekadar pembalap Indonesia di kancah dunia, tetapi telah menjadi ancaman nyata bagi para pesaing gelar musim ini.


