Hot Topics

Menghadapi Ujian dari Manusia

Dalam menjalani kehidupan di dunia, interaksi sosial kerap menghadirkan ujian yang tidak ringan. Mulai dari perkataan yang menyakitkan, perlakuan tidak adil, hingga sikap permusuhan. Lalu, bagaimana seharusnya seorang Muslim menyikapi hal ini? Al-Qur’an dan Hadits memberikan tuntunan yang lengkap. Lebih dari sekadar perintah, Islam menjelaskan hikmah mendalam di balik setiap ujian dari manusia, yang akan kita kupas melalui tafsir para ulama berikut ini.

Hakikat Manusia sebagai Ujian

Allah SWT mengingatkan bahwa menjadikan sebagian manusia sebagai ujian bagi sebagian yang lain adalah bagian dari sunnatullah. Bahkan para nabi pun tidak luput dari ujian ini.

Surah Al-Furqan Ayat 20

وَمَآ اَرْسَلْنَا قَبْلَكَ مِنَ الْمُرْسَلِيْنَ اِلَّآ اِنَّهُمْ لَيَأْكُلُوْنَ الطَّعَامَ وَيَمْشُوْنَ فِى الْاَسْوَاقِۗ وَجَعَلْنَا بَعْضَكُمْ لِبَعْضٍ فِتْنَةًۗ اَتَصْبِرُوْنَۚ وَكَانَ رَبُّكَ بَصِيْرًاࣖ

“Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu (Nabi Muhammad), melainkan mereka pasti menyantap makanan dan berjalan di pasar. Dan Kami jadikan sebagian kamu sebagai cobaan bagi sebagian yang lain. Maukah kamu bersabar? Dan Tuhanmu Maha Melihat.” (QS. Al-Furqan: 20)

Tafsir Ayat:

  • Tafsir Al-Muyassar (Kementerian Agama Saudi Arabia): Ayat ini menegaskan bahwa para rasul adalah manusia biasa yang memakan makanan dan berjalan di pasar. Allah menjadikan sebagian manusia sebagai cobaan bagi yang lain melalui perbedaan kondisi seperti hidayah dan kesesatan, kekayaan dan kemiskinan, sehat dan sakit. Pertanyaan “Maukah kamu bersabar?” adalah dorongan untuk bersabar menjalankan kewajiban dan bersyukur dalam segala kondisi, karena Allah Maha Melihat hamba-Nya yang bersabar maupun yang berkeluh kesah .
  • Tafsir Ibnu Katsir: Allah memberitahukan bahwa para rasul terdahulu juga memakan makanan dan berjalan di pasar untuk mencari penghidupan. Hal ini tidak mengurangi kedudukan mereka sebagai nabi. Allah sengaja menguji sebagian hamba dengan sebagian yang lain, dan menguji para rasul dengan umatnya. Sebagaimana dalam hadits Qudsi, Allah berfirman, “Sesungguhnya Aku akan mengujimu dan menguji (hamba)-Ku denganmu” (HR. Muslim). Tujuannya adalah untuk mengetahui siapa yang taat dan siapa yang durhaka .
  • Tafsir As-Sa’di: Ayat ini adalah jawaban atas keheranan orang-orang kafir yang bertanya, “Kenapa rasul ini memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar?” Allah menjelaskan bahwa ini adalah sunnah-Nya. Perbedaan kondisi (kaya-miskin, sehat-sakit) adalah ujian dan cobaan. Dunia adalah negeri ujian, dan tujuannya adalah untuk melihat apakah manusia bersabar dalam menjalankan kewajiban atau justru ingkar .
  • Tafsir Al-Wajiz (Wahbah az-Zuhaili): Ayat ini menegaskan bahwa para nabi juga membutuhkan makan dan mencari nafkah. Allah menguji orang kaya dengan orang fakir, orang sehat dengan orang sakit, untuk mengetahui tingkat keteguhan iman mereka .

Tiga Kunci Utama Menghadapi Ujian dari Manusia

Al-Qur’an memberikan panduan praktis tentang bagaimana seharusnya sikap kita. Salah satunya adalah dengan meneladani sifat-sifat orang bertakwa.

Surah Ali ‘Imran Ayat 134

الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّۤاءِ وَالضَّرَّۤاءِ وَالْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَۚ

“(Yaitu) orang-orang yang selalu berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang mengendalikan kemurkaannya, dan orang-orang yang memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Ali Imran: 134)

Tafsir Ayat:

  • Tafsir Ibnu Katsir (Ringkasan): Ayat ini menggambarkan ciri-ciri orang bertakwa. Pertama, mereka berinfak baik dalam keadaan lapang (senang) maupun sempit (susah). Kedua, mereka menahan amarah ketika mampu untuk melampiaskannya. Ketiga, mereka memaafkan kesalahan orang lain meskipun tanpa diminta. Keempat, mereka berbuat kebaikan (ihsan), dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan .
  • Tafsir Imam Ar-Razi (Mafatih al-Ghaib): As-Sarra’ diartikan sebagai kondisi kaya, sementara adh-Dharra’ adalah kondisi fakir. Berinfak dalam dua kondisi ini adalah ketaatan yang sulit karena membutuhkan kesungguhan, keikhlasan, dan kecintaan yang mendalam. Adapun menahan amarah dapat dilakukan dengan cara diam dan tidak memperlihatkannya .
  • Tafsir Al-Misbah (Quraish Shihab): Infak dalam ayat ini maknanya umum, tidak selalu berupa harta, tetapi apa saja yang dapat diberikan dan bermanfaat bagi orang lain, termasuk upaya mendamaikan orang yang berselisih .
  • Kisah Inspiratif (Zubdatut Tafsir): Maimun bin Mahram pernah hendak memukul pelayannya karena tidak sengaja menumpahkan gulai ke bajunya. Pelayan itu segera berkata, “Tuanku, sampai sejauh manakah engkau mengamalkan ayat ‘wal kadhimiinal ghaidz’ (orang-orang yang menahan amarah)?” Maimun menjawab, “Telah saya lakukan,” lalu menahan pukulannya. Pelayan itu melanjutkan, “Lalu bagaimana dengan ayat ‘wal aafiina anin naas’ (dan orang-orang yang memaafkan)?” Maimun berkata, “Telah saya lakukan, aku maafkan engkau.” Pelayan itu melanjutkan, “Wallahu yuhibbul muhsinin (Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan).” Maka Maimun pun berkata, “Aku merdekakan engkau karena Allah.”

Tingkatan Akhlak Tertinggi: Membalas Keburukan dengan Kebaikan

Puncak dari kesabaran dalam menghadapi ujian dari manusia adalah membalas keburukan dengan kebaikan.

Surah Fussilat Ayat 34

وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ۗ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ

“Dan tidaklah sama kebaikan dengan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.” (QS. Fussilat: 34)

Tafsir Ayat:

  • Tafsir Ibnu Katsir: Jika ada orang yang berbuat jahat kepadamu, maka tolaklah dengan cara yang lebih baik. Jika engkau berbuat baik kepada orang yang berbuat jahat kepadamu, niscaya kebaikan itu akan membuatnya bersikap baik, mencintaimu, dan menjadi teman setia .
  • Tafsir Al-Maraghi: Hapuslah kejahilan orang kafir itu dengan cara yang baik. Balaslah keburukan mereka dengan kebaikan, hadapilah kekasaran dengan kemaafan, dan hadapilah kemarahan dengan kesabaran. Jika engkau bersabar dan memperlakukan mereka dengan baik, mereka akan malu dan berhenti berbuat jahat .
  • Tafsir Jalalayn: Tolaklah kejahatan dengan cara yang lebih baik, seperti membalas kemarahan dengan kesabaran, kebodohan dengan sikap santun, dan kejahatan dengan pemaaf. Maka orang yang dulunya musuh akan menjadi teman yang saling mengasihi .
  • Pandangan Ibnu Arabi (Ahkam Al-Qur’an): Ayat ini bersifat umum dan berlaku untuk sesama Muslim. Termasuk dalam pengertian ayat ini adalah menghindarkan sikap keras dan kasar, serta meneladani doa Nabi SAW, “Wahai Tuhanku, ampunilah kaumku karena mereka tidak mengetahui” (HR. Muslim No. 4747) .

Hadits-Hadits Penguat tentang Sabar dan Memaafkan

Tuntunan Al-Qur’an ini diperkuat oleh sabda-sabda Rasulullah SAW:

1. Kekuatan Sejati adalah Menahan Marah
Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda:
لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ
“Bukanlah orang kuat itu dengan banyak bergulat, sesungguhnya orang kuat adalah yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.”
(HR. Bukhari No. 6114, Muslim No. 2609)

2. Nasihat Ringkas: Jangan Marah
Seorang laki-laki meminta wasiat kepada Nabi SAW, beliau bersabda:
لَا تَغْضَبْ (beliau mengulanginya beberapa kali)
“Janganlah engkau marah.”
(HR. Bukhari No. 6116)

3. Memaafkan Menambah Kemuliaan
Rasulullah SAW bersabda:
وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا
“Dan tidaklah Allah menambah seorang hamba dengan pemberian maafnya, melainkan kemuliaan (di dunia dan akhirat).”
(HR. Muslim No. 2588)

4. Akhlak Tingkat Tinggi: Menyambung yang Memutus
Rasulullah SAW bersabda:
لَيْسَ الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ، وَلَكِنَّ الْوَاصِلَ الَّذِي إِذَا قُطِعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا
“Bukanlah penyambung silaturahmi itu orang yang membalas kebaikan, tetapi penyambung silaturahmi yang sejati adalah orang yang ketika putus tali silaturahmi dengannya, ia justru menyambungnya.”
(HR. Ahmad No. 7734, Shahih Al-Bukhari No. 5991 secara makna)

Kesimpulan

Berdasarkan tafsir ayat-ayat di atas, jelaslah bahwa menghadapi ujian dari sesama manusia adalah keniscayaan hidup di dunia yang merupakan darul ibtila’ (negeri ujian). Allah SWT menjadikan perbedaan kondisi dan sifat manusia sebagai sarana untuk menguji keimanan hamba-Nya .

Tiga kunci utama yang diajarkan Al-Qur’an adalah:

  1. Mengendalikan amarah saat menghadapi perlakuan buruk.
  2. Memaafkan kesalahan orang lain.
  3. Membalas keburukan dengan kebaikan, yang merupakan akhlak para muhsinin (orang yang berbuat kebaikan) yang dicintai Allah .

Dengan berpegang teguh pada tuntunan ini, setiap ujian dari manusia dapat kita ubah menjadi ladang pahala dan sarana untuk meninggikan derajat di sisi Allah. Karena sesungguhnya, Allah Maha Melihat lagi Maha Mengetahui atas segala apa yang kita usahakan.

Tags :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recent News