Dalam tradisi Islam, penggunaan emas oleh pria tidak diperbolehkan. Hal ini menjadi topik yang sering dibahas dalam kajian fiqih dan menjadi peraturan yang diikuti oleh banyak umat Muslim di seluruh dunia. Larangan ini tidak hanya didasarkan pada prinsip keagamaan, tetapi juga memiliki alasan yang mendalam yang berhubungan dengan kesejahteraan fisik dan sosial.
Larangan Penggunaan Emas bagi Pria Muslim
Larangan penggunaan emas oleh pria dapat ditemukan dalam banyak hadis dan fatwa ulama. Salah satu hadis yang paling terkenal tentang hal ini diriwayatkan oleh Abu Hurairah, yang menyatakan:
“Rasulullah SAW melarang memakai emas dan sutra bagi kaum laki-laki.” (HR. Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa Rasulullah SAW dengan tegas melarang pria menggunakan emas. Dalam hal ini, emas dianggap sebagai simbol kemewahan yang berlebihan, yang bisa mempengaruhi kesederhanaan dan kerendahan hati, nilai-nilai yang sangat dihargai dalam Islam.
Alasan di Balik Larangan Penggunaan Emas oleh Pria
Larangan ini dilatarbelakangi oleh prinsip keadilan sosial dan penghindaran dari sifat berlebih-lebihan. Islam mengajarkan umatnya untuk hidup sederhana dan tidak terjerumus ke dalam dunia materialisme. Rasulullah SAW mengajarkan umatnya untuk menjauhi sifat berlebihan, termasuk dalam hal penampilan. Penggunaan emas, khususnya perhiasan emas, oleh pria dianggap sebagai bentuk pemborosan dan bisa mengarah pada perasaan kesombongan.
Selain itu, dari segi psikologis, penggunaan emas dapat menumbuhkan rasa bangga diri yang berlebihan, yang pada gilirannya bisa menyebabkan perasaan superioritas terhadap orang lain. Islam, sebagai agama yang mengajarkan kesetaraan, mengharapkan umatnya untuk tetap rendah hati dan tidak memamerkan kekayaan.
Manfaat Larangan Emas bagi Tubuh
Di luar aspek spiritual dan sosial, larangan ini juga memiliki manfaat untuk kesehatan tubuh. Berikut adalah beberapa alasan ilmiah yang mendukung larangan penggunaan emas:
- Menghindari Stres dan Kecemasan
Emas, dengan kilauannya yang menawan, bisa menjadi sumber kecemasan atau stres bagi sebagian orang. Dalam kehidupan sehari-hari, tekanan untuk memiliki barang-barang mewah dapat mempengaruhi kesejahteraan mental seseorang. Larangan ini, di sisi lain, mendorong untuk fokus pada hal-hal yang lebih esensial dalam hidup, yang dapat mengurangi stres dan kecemasan. - Kesehatan Kulit
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa memakai perhiasan emas dalam waktu lama dapat mempengaruhi kesehatan kulit. Emas yang tidak bersertifikat atau perhiasan yang mengandung campuran logam lain dapat menyebabkan iritasi atau reaksi alergi pada kulit, seperti gatal atau peradangan. Larangan memakai emas bagi pria ini, dapat mengurangi potensi risiko kesehatan kulit. - Menjaga Kesehatan Psikologis
Penelitian dalam psikologi sosial mengungkapkan bahwa penggunaan perhiasan atau barang-barang mewah berlebihan bisa berhubungan dengan kecenderungan narsistik. Narsisme dapat meningkatkan tingkat stres dan mengganggu kesehatan mental seseorang. Dengan menghindari penggunaan emas, pria dapat mengurangi godaan untuk hidup dalam kemewahan yang berlebihan dan menjaga kestabilan emosional.
Dalil Al-Qur’an Mengenai Larangan Emas
Larangan emas bagi pria juga bisa ditemukan dalam ayat-ayat Al-Qur’an yang mengajarkan umat Muslim untuk menghindari kesombongan dan pemborosan. Salah satu ayat yang mendukung prinsip hidup sederhana adalah:
“Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (QS. Al-Ghafir: 60)
Ayat ini mengingatkan kita untuk tidak bersikap sombong dan berlebihan, yang bisa tercermin dari cara kita memperlakukan kekayaan, termasuk dalam penggunaan perhiasan emas.
Larangan penggunaan emas bagi pria Muslim adalah bentuk dari ajaran Islam yang mengedepankan kesederhanaan dan menekankan pada penghindaran perilaku berlebihan. Hadis-hadis yang melarang penggunaan emas oleh pria, baik dalam bentuk perhiasan maupun barang lainnya, bertujuan untuk menjaga umat Muslim tetap rendah hati dan menghindari perasaan sombong. Selain manfaat spiritual, larangan ini juga memiliki dampak positif bagi kesehatan tubuh, baik secara fisik maupun psikologis.
Dengan memahami larangan ini, umat Muslim diharapkan dapat lebih bijak dalam memanfaatkan harta kekayaan mereka, serta menjaga keseimbangan antara duniawi dan ukhrawi. Sebagai umat Muslim, menjaga prinsip kesederhanaan dalam hidup adalah salah satu bentuk pengabdian kepada Allah SWT yang membawa kebaikan bagi diri sendiri dan masyarakat.
Dalam Al-Qur’an, ada ayat yang mengajarkan tentang prinsip hidup sederhana dan tidak berlebihan.
QS. Al-A’raf: 31
يٰبَنِيْٓ اٰدَمَ خُذُوْا زِيْنَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَّكُلُوْا وَاشْرَبُوْا وَلَا تُسْرِفُوْاۚ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِيْنَࣖ ٣١
“Wahai anak cucu Adam, pakailah pakaianmu yang indah pada setiap (memasuki) masjid dan makan serta minumlah, tetapi janganlah berlebihan. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang berlebihan”
Ayat ini mendorong umat Islam untuk tidak berlebihan dalam hal apapun, termasuk dalam penggunaan harta dan perhiasan. Dengan demikian prinsip kesederhanaan yang diajarkan Islam sejalan dengan larangan tersebut.
والله أعلمُ بالـصـواب



