
Berikut empat pasangan kakak-beradik yang membela negara berbeda di Piala Dunia 2026.
1. Desire Doue — Prancis dan Guela Doue — Pantai Gading
Desire Doue dan Guela Doue menjadi salah satu cerita keluarga paling menarik di Piala Dunia 2026. Keduanya memiliki hubungan darah, tetapi memilih jalan internasional yang berbeda.
Desire Doue memperkuat Prancis setelah sejak muda masuk dalam sistem tim nasional kelompok umur Les Bleus. Namanya semakin mencuri perhatian setelah tampil menonjol di level klub dan dianggap sebagai salah satu talenta muda paling menjanjikan di Eropa.
Sementara itu, Guela Doue memilih membela Pantai Gading, negara asal sang ayah. Karier Guela juga berkembang cukup stabil di level klub. Setelah memperkuat Rennes dan Strasbourg, ia masuk dalam rencana utama Pantai Gading dan tampil sebagai bagian penting dari skuad mereka.
Kisah Doue bersaudara menjadi simbol kuat bahwa pilihan tim nasional tidak selalu ditentukan oleh tempat lahir semata, tetapi juga oleh akar keluarga dan kedekatan emosional dengan negara asal orang tua.
2. Nico Williams — Spanyol dan Inaki Williams — Ghana
Pasangan Nico Williams dan Inaki Williams sudah lama menjadi perhatian publik sepak bola. Keduanya sama-sama bermain untuk Athletic Bilbao, tetapi membela negara berbeda di level internasional.
Nico Williams memilih Spanyol dan berkembang menjadi salah satu pemain sayap paling eksplosif di generasinya. Ia mulai mencuri perhatian sejak usia muda karena mampu menembus skuad utama Athletic Bilbao dan kemudian menjadi bagian penting dari tim nasional Spanyol.
Di sisi lain, Inaki Williams sempat membela Spanyol pada level senior. Namun, setelah tidak lagi mendapat banyak kesempatan, ia memilih memperkuat Ghana, negara asal orang tuanya. Keputusan itu membuat Inaki menjadi bagian penting dari Black Stars sejak 2022.
Kisah Williams bersaudara menarik karena keduanya tidak hanya berbagi klub dan keluarga, tetapi juga membawa narasi besar tentang identitas, migrasi, dan warisan orang tua dalam sepak bola internasional.
3. Brian Brobbey — Belanda dan Derrick Luckassen — Ghana
Brian Brobbey dan Derrick Luckassen juga masuk dalam daftar kakak-beradik yang tampil untuk negara berbeda di Piala Dunia 2026. Brobbey membela Belanda, sedangkan Luckassen memperkuat Ghana.
Brobbey dikenal sebagai penyerang yang berkembang dalam sistem sepak bola Belanda. Dengan kekuatan fisik dan kemampuan menyerang kotak penalti, ia menjadi salah satu opsi lini depan De Oranje.
Sementara itu, Derrick Luckassen memilih jalur internasional bersama Ghana. Kehadirannya memberi warna tambahan bagi skuad Black Stars, terutama karena Ghana banyak diperkuat pemain diaspora yang berkarier di Eropa.
Kisah Brobbey dan Luckassen memperlihatkan bahwa hubungan keluarga dalam sepak bola tidak selalu berjalan dalam satu arah kebangsaan yang sama. Dalam banyak kasus, pilihan tim nasional justru menjadi ruang untuk menegaskan identitas yang berbeda dalam satu keluarga.
4. Harry Souttar — Australia dan John Souttar — Skotlandia
Harry Souttar dan John Souttar menjadi contoh lain kakak-beradik yang membela negara berbeda di Piala Dunia 2026. Harry memperkuat Australia, sedangkan John membela Skotlandia.
Keduanya memiliki latar keluarga yang memungkinkan mereka memilih jalur internasional berbeda. Harry Souttar mengambil kesempatan bersama Australia, sementara John Souttar tetap berada di jalur tim nasional Skotlandia.
Sebagai pemain bertahan, keduanya sama-sama membawa karakter permainan yang kuat secara fisik. Namun, di panggung internasional, mereka berdiri di sisi yang berbeda.
Kisah Souttar bersaudara menambah daftar panjang pemain yang menunjukkan bahwa sepak bola internasional hari ini tidak bisa dilepaskan dari latar keluarga lintas negara.
Piala Dunia 2026 dan Cerita Identitas di Lapangan
Kehadiran kakak-beradik yang membela negara berbeda membuat Piala Dunia 2026 semakin kaya cerita. Turnamen ini bukan hanya tentang perebutan trofi, tetapi juga tentang perjalanan keluarga, pilihan identitas, dan hubungan emosional dengan negara yang dibela.
Bagi para pemain, membela tim nasional adalah keputusan besar. Ada yang memilih negara tempat mereka lahir dan tumbuh. Ada pula yang memilih negara asal orang tua sebagai bentuk penghormatan terhadap akar keluarga.
Dari Doue, Williams, Brobbey-Luckassen, hingga Souttar, Piala Dunia 2026 membuktikan bahwa satu keluarga bisa memiliki lebih dari satu warna bendera, tetapi tetap berbagi mimpi yang sama di panggung sepak bola dunia.

