Hot Topics

Tiga Orang Tewas dalam Wabah Hantavirus di MV Hondius, Ini Gejala dan Cara Penularannya

Tiga orang dilaporkan meninggal dunia dalam wabah hantavirus yang dikaitkan dengan kapal pesiar berbendera Belanda, MV Hondius. Kasus ini menjadi perhatian otoritas kesehatan internasional karena virus yang terdeteksi adalah hantavirus Andes, salah satu jenis hantavirus yang jarang ditemukan tetapi dapat menyebabkan penyakit berat pada manusia. WHO melaporkan adanya klaster kasus hantavirus terkait perjalanan kapal pesiar tersebut, dengan sejumlah kasus terkonfirmasi dan kontak erat yang masih ditelusuri lintas negara.

MV Hondius sebelumnya dilaporkan tiba di perairan Tanjung Verde pada 3 Mei 2026. Kapal itu membawa penumpang dari berbagai negara, termasuk warga Inggris. Berdasarkan pembaruan ECDC, kapal tersebut mengangkut penumpang dan kru dari 23 negara, sehingga penanganan wabah melibatkan koordinasi banyak negara.

Hantavirus merupakan kelompok virus yang umumnya dibawa oleh hewan pengerat, terutama tikus. Virus ini dapat keluar melalui urine, kotoran, dan air liur hewan terinfeksi. Manusia biasanya tertular ketika menghirup partikel udara yang sudah terkontaminasi virus dari kotoran atau urine hewan pengerat. Dalam kondisi lebih jarang, penularan juga dapat terjadi melalui luka terbuka, mata, atau gigitan hewan pengerat.

Kasus di MV Hondius mendapat perhatian khusus karena jenis virus yang ditemukan adalah Andes virus. Berbeda dari sebagian besar hantavirus, Andes virus diketahui sebagai satu-satunya jenis hantavirus yang dapat menular dari manusia ke manusia, meski penularannya tetap jarang dan biasanya terjadi melalui kontak dekat serta berkepanjangan dengan pasien yang sakit.

Hantavirus dapat memicu dua sindrom utama. Di kawasan Amerika, infeksi ini sering dikaitkan dengan Hantavirus Pulmonary Syndrome atau HPS, yaitu penyakit berat yang menyerang paru-paru. Gejala awal HPS meliputi demam, rasa lelah ekstrem, nyeri otot, sakit kepala, mual, muntah, diare, dan nyeri perut. Pada fase lanjut, pasien dapat mengalami batuk dan sesak napas karena paru-paru mulai terisi cairan. CDC menyebut HPS dapat berakibat fatal, dengan sekitar 38 persen pasien yang mengalami gejala pernapasan berat berisiko meninggal.

Di Eropa dan Asia, hantavirus lebih sering dikaitkan dengan Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome atau HFRS. Sindrom ini dapat menyerang ginjal dan menimbulkan gejala seperti demam, sakit kepala berat, nyeri punggung, nyeri perut, mual, gangguan penglihatan, tekanan darah rendah, perdarahan internal, hingga gagal ginjal akut.

Hingga kini belum ada vaksin atau obat antivirus khusus untuk mengatasi infeksi hantavirus. Perawatan dilakukan secara suportif sesuai kondisi pasien. Penderita dengan gangguan pernapasan berat dapat membutuhkan bantuan oksigen atau perawatan intensif, sedangkan pasien dengan gangguan ginjal berat dapat memerlukan dialisis.

Meski wabah ini serius, otoritas kesehatan menilai risiko bagi masyarakat umum tetap rendah. Hantavirus tidak mudah menyebar melalui interaksi sosial biasa, seperti berada di ruang publik, sekolah, tempat kerja, atau toko. WHO juga menilai risiko global dari kejadian ini masih rendah, sambil tetap memantau perkembangan epidemiologis dan melakukan penelusuran kontak.

Otoritas kesehatan di sejumlah negara kini fokus pada pelacakan kontak, isolasi, pemantauan gejala, dan pemulangan penumpang secara terkontrol. Langkah tersebut dilakukan untuk mencegah kemungkinan penularan lanjutan, terutama karena Andes virus memiliki karakteristik penularan yang berbeda dari hantavirus lain.

Tags :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recent News