Harga rata-rata bensin di pompa Amerika Serikat melonjak ke level tertinggi yang pernah tercatat di masa kepemimpinan Presiden Donald Trump. Kenaikan ini menjadi tantangan politik baru bagi pemerintahan di tengah persiapan menuju pemilu paruh waktu.
Berdasarkan data dari American Automobile Association (AAA) yang dirilis Kamis waktu setempat, harga eceran bensin rata-rata nasional mencapai USD 3,32 per galon. Angka ini melampaui rekor tertinggi sebelumnya yang pernah terjadi baik di masa jabatan pertama maupun kedua Presiden Trump.
Harga Futures Melonjak 27% dalam Sepekan
Lonjakan harga di pompa bensin sejalan dengan gejolak di pasar komoditas. Harga futures bensin melesat 27% sepanjang minggu ini dan berada di jalur untuk mencatatkan kenaikan mingguan terbesar sejak Maret 2022. Para analis mengaitkan gejolak ini langsung dengan eskalasi konflik di Timur Tengah yang mengganggu rantai pasokan energi global.
Konflik Timur Tengah dan Gangguan Pasokan
Gangguan pasokan menjadi faktor utama pendorong harga. Konflik terkini telah memutus akses para penyuling minyak di Asia terhadap pasokan minyak mentah kritis yang biasanya mengalir melalui Selat Hormuz. Akibatnya, beberapa negara seperti China telah meminta perusahaan penyulingan terbesarnya untuk menangguhkan sementara ekspor diesel dan bensin.
Ancaman yang lebih besar datang dari Menteri Energi Qatar, Saad al-Kaabi. Ia memperingatkan bahwa semua pemasok energi di Teluk Persia kemungkinan besar akan terpaksa menghentikan ekspor dalam hitungan minggu jika konflik dengan Iran berlanjut. Qatar sendiri telah menghentikan sementara operasi pabrik gas alam cair (LNG) Ras Laffan pekan ini setelah serangan drone Iran. Al-Kaabi menegaskan produksi gas alam dalam skala besar tidak akan dapat dimulai kembali hingga permusuhan benar-benar berakhir.
Faktor Tambahan: Pergantian Musim
Selain faktor geopolitik, tekanan harga juga datang dari siklus tahunan di dalam negeri AS. Para penyuling minyak Amerika sedang dalam masa transisi dari produksi bensin grade musim dingin ke grade musim panas yang lebih mahal. Pergantian ini secara rutin mendorong kenaikan harga di musim semi.
Respons Pemerintah dan Tantangan Politik
Kenaikan harga BBM ini menjadi bumerang bagi retorika Presiden Trump yang kerap menjanjikan harga energi murah sebagai wujud dominasi energi Amerika. Peningkatan biaya bahan bakar ini dapat menjadi tantangan serius bagi presiden dan partainya pada pemilu paruh waktu yang akan digelar akhir tahun ini.
Pemerintah Trump tampaknya mulai bergerak untuk meredam tekanan. Departemen Keuangan AS, pada Kamis malam, dilaporkan telah melonggarkan pembatasan terhadap kemampuan India untuk membeli minyak Rusia. Langkah ini diduga sebagai upaya untuk membuka alternatif pasokan dan menstabilkan pasar global.
Dengan kombinasi faktor geopolitik yang tidak menentu dan siklus musiman, tekanan pada harga BBM diperkirakan masih akan berlanjut dalam beberapa waktu ke depan, menjadikannya isu krusial yang akan terus dipantau oleh warga Amerika dan menjadi bahan perdebatan politik menjelang pemilu.



