Rentan Keguguran Pada Kehamilan Pertama, Apakah Mitos atau Fakta?

SuratNews.ID | Kehamilan pertama biasanya menjadi momen dinanti oleh setiap pasangan yang baru menikah. Kehadiran buah hati dipercaya membuat suasana keluarga semakin lengkap dan harmonis.

Meski begitu, ada mitos seputar kelahiran anak pertama yang menghantui benak para calon ibu. Sebagian orang menganggap kehamilan tersebut lebih rentan terhadap keguguran.

Benarkah Hamil Pertama Rentan Keguguran?
Menjawab hal tersebut, dr. Devia Irine Putri menjelaskan, keguguran sebenarnya bisa terjadi pada siapa saja, termasuk para ibu yang sebelumnya pernah melahirkan.

Menurut dia, keguguran justru lebih rentan dialami mereka yang berumur di atas 35 tahun atau di usia lanjut.

“Sebab, semakin tua usia, pasti kualitas sel telur menurun. Sel tubuh kita juga ikut berubah. Jadi risiko janin tidak berkembang karena masalah kromosom itu bisa saja terjadi,” dr. Devia menjelaskan.

Ibu yang hamil di usia lanjut juga rentan mengalami preeklampsia. Yakni, komplikasi di masa kehamilan yang ditandai dengan kenaikan tekanan darah hingga mencapai 140/90 mmHg. Komplikasi ini bisa membahayakan organ tubuh lain, termasuk ginjal dan hati.

Oleh karena itu, tidak benar jika kehamilan pertama rentan keguguran. Namun, perlu dicatat, rentan tidaknya keguguran sebetulnya tergantung pada beberapa faktor.

Faktor Penyebab Keguguran

Selain usia, ada beberapa penyebab keguguran pada kehamilan pertama. Dokter Arina Heidyana menyebut, ada beberapa ibu yang tidak menyadari kehamilan mereka pada trimester pertama.

Bisa jadi mereka tetap melakukan aktivitas berat atau yang membahayakan janin sehingga risiko mengalami keguguran menjadi tinggi.

“Pada trimester pertama itu biasanya karena ibu tersebut tidak tahu kalau dirinya hamil. Selain itu, penempelan janin ke rahim yang kurang bagus dan janin tidak dapat cukup makanan untuk tumbuh. Hal ini juga bisa menjadi faktor penyebab keguguran,” papar dr. Arina.

Dokter Devia menambahkan, sejatinya penyebab keguguran memang tergantung pada kondisi kesehatan sang ibu.

“Paling sering adalah kelainan kromosom sehingga tidak berkembang, bisa karena infeksi misalnya TORCH (Toxoplasma, Other Disease, Rubella, Cytomegalovirus, dan Herpes Simplex Virus),” jelas dr. Devia.

“Selain itu, bisa juga karena implantasinya yang tidak benar bisa karena ada kelainan di dinding rahim yang tidak diketahui,” dia menambahkan.

“Lalu, obesitas biasanya dihubungkan dengan hormon biasanya pada PCOS (Polycystic Ovary Syndrome), ini juga bisa menjadi penyebab keguguran,” tambah dr. Devia.

Di samping itu, beberapa gaya hidup tidak sehat juga bisa meningkatkan risiko keguguran, seperti merokok, mengonsumsi alkohol, dan obat-obatan terlarang (NAPZA). Untuk itu, kebiasaan tersebut sudah sepatutnya dihindari para ibu hamil.

sumber : klikdokter.com

dedi wahyu
Author: dedi wahyu

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *