Fakta Herry Wirawan, Babak Belur Dihajar Napi hingga Saran Hukum Mati

SuratNews.ID | Berikut deretan fakta kasus Herry Wirawan pelaku rudapaksa 12 santriwati di Bandung yang masih di bawah umur.

Kasus rudapaksa pada 12 santriwati yang dilakukan oleh Herry Wirawan masih terus didalami oleh pihak terkait guna menentukan hukuman yang setimpal.

Bahkan, di media sosial sempat ramai untuk menjatuhi Herry Wirawan dengan hukuman kebiri atau mati.

Dilansir dari berbagai sumber, beriktu fakta kasus Herry Wirawan pelaku rudapaksa 12 santriwati di Bandung.

  1. Kondisi Herry Wirawan di rutan

Saat ini, terdakwa kasus rudapaksa belasan santriwati di Bandung itu ditahan di Rumah Tahanan Negara Klas I Bandung sejak 28 September 2021.

Hingga saat ini dia masih menjalani persidangan.

Dalam foto yang beredar, tampak wajah Herry pada bagian mata sebelah kanan lebam dan sedikit membengkak.

Tidak hanya itu, persis di bawah mata nampak juga sedikit bengkak dengan warna keunguan.

Kepala Rumah Tahanan Negara Klas I Bandung, Riko Stiven memastikan kondisi terdakwa tindak pidana dugaan rudapaksa, HW alias Herry Wirawan dalam kondisi baik.

Selama di tahanan Herry Wirawan mendapatkan hak dan perlakuan yang sama seperti warga binaan yang lain.

“Semua kami perlakukan sama, tidak ada yang dikhususkan atau diistimewakan, termasuk terhadap HW,” kata Riko Stiven.

  1. Hoaks adanya intervensi dalam sel

Riko Stiven mengatakan, sebelum kasus ini mencuat tak tahu siapa itu Herry Wirawan.

Menurut Riko Stiven, sebelum viral, memang pihaknya dan warga binaan lainnya belum tahu bahwa yang bersangkutan merupakan pelaku itu (tindak pidana rudapaksa).

“Tapi sejak minggu kemarin juga semua sudah tahu, karena viral di mana-mana dan juga informasinya menyebar dari mulut ke mulut dari warga binaan,” ujarnya saat dihubungi Tribunjabar.id melalui telepon, Senin (13/12/2021).

Riko menegaskan meskipun warga binaan lainnya sudah mengetahui yang bersangkutan berada di antara mereka, namun sejauh ini tidak ada gejolak maupun intervensi baik fisik maupun psikis yang diterima HW.

“Ya meskipun sudah pada tahu, tapi semua biasa-biasa saja, tidak ada gejolak atau intervensi baik fisik dan psikis terhadap HW. Alhamdulilah warga binaan di sini baik-baik. Dan perlu digarisbawahi adalah, semua (warga binaan) kami berikan hak yang sama, tidak ada perlakuan khusus sama sekali siapapun itu,” ucapnya.

Ia pun menjelaskan bahwa sebagaimana warga binaan lainnya yang tengah menjalani proses peradilan, HW ditempatkan dalam kamar blok tahanan sejak 12 Oktober lalu.

Kecuali apabila pengadilan sudah memutuskan vonis hukuman bagi yang bersangkutan, maka tahanan akan dipindahkan ke kamar narapidana.

“Kalau sudah jatuh vonis dan menjadi narapidana, pastinya bukan di rutan lagi tempatnya, tapi dipindahkan ke lapas (lembaga pemasyarakatan) kan seperti itu alurnya,” ujar Riko.

Disinggung terkait beredarnya foto yang diduga merupakan wajah dari HW yang tampak dalam kondisi babak belur, Riko memastikan bahwa kondisi dalam foto tersebut tidak benar adanya.

Sebab, pagi hari tadi (13/12/2021), dirinya memastikan langsung kondisi dari HW dan sempat berbincang sesaat, di mana kondisi yang bersangkutan baik-baik saja.

“Itu (foto kondisi wajah HW) saya pastikan tidak benar, karena pada pagi tadi saya juga sudah mengobrol langsung dengan yang bersangkutan, bahwa dia (HW) dalam keadaan sehat jasmani dan rohani,” ucapnya.

Riko menambahkan, HW akan menjalani proses persidangan ketujuh atau lanjutan pada 21 Desember nanti.

Ia pun memastikan, pihaknya akan memfasilitasi kebutuhan proses persidangan yang akan diikuti Herry Wirawan secara virtual.

“Kami bertugas untuk merawat yang bersangkutan, memenuhi haknya sebagai warga binaan. Termasuk memfasilitasi kebutuhan persidangannya yang digelar secara virtual, jadi semua sudah kami lakukan sesuai aturan yang ada,” katanya.

Hal senada disampaikan oleh Humas Pengadilan Negeri Bandung, Wasdi Permana.

Menurutnya, proses persidangan dengan perkara tindak pidana kekerasan seksual yang dilakukan terdakwa HW, baru akan kembali digelar pada 21 Desember mendatang

“Besok tidak ada sidang. Sidang lanjutan aja digelar pada hari Selasa tanggal 21 Desember, dengan agenda pemeriksaan saksi,” ujarnya kepada Tribunjabar.id melalui pesan singkat WhatsApp, Senin (13/12/2021).

  1. Layak dihukum mati

PWNU menyarankan atau merekomendasikan hukuman berat kepada Herry Wiryawan, yakni hukuman mati atau hukuman kurungan penjara seumur hidup.

PWNU Jatim tidak merekomendasikan hukuman kebiri kepada Herry Wirawan.

Hasil bahtsul masail PWNU Jatim soal hukuman bagi pelaku pelecehan seksual adalah hukuman berat seumur hidup atau hukuman mati.

“Hasil bahtsul masail PWNU Jatim bukan hukuman kebiri yang layak bagi pelaku pelecehan seksual,” kata Wakil Ketua PWNU Jawa Timur Abdus Salam Shohib kepada wartawan, Minggu (12/12/2021).

Hukuman kebiri, menurut pandangan Islam dalam kajian kitab Fiqih, kata dia, hanya menyiksa pelaku dalam waktu yang lama.

“Hukuman untuk pelaku pelecehan seksual disebut takzir, dan kebiri bukan masuk dalam kategori takzir,” jelasnya.

Hukuman bagi pelaku pelecehan seksual berdasarkan hasil bahtsul masail PWNU Jatim adalah hukuman seberat-beratnya.

“Jika masih belum jera maka bisa dihukum mati. Takzir tidak bisa diganti dengan uang,” tegasnya.

Seperti diberitakan, Herry Wirawan seorang guru agama di Kota Bandung melakukan pelecehan seksual kepada belasan murid perempuannya, beberapa di antaranya bahkan ada yang hamil dan melahirkan anak.

Kasus tersebut saat ini sedang berproses di pengadilan.

Dalam dakwaannya, pelaku didakwa melanggar Pasal 81 ayat (1), ayat (3) jo Pasal 76.D UU RI Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak jo Pasal 65 ayat (1) KUHP untuk dakwaan primairnya. Sedang dakwaan subsider, melanggar Pasal 81 ayat (2), ayat (3) jo Pasal 76.D UU RI Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak jo Pasal 65 ayat (1).

  1. Kejahatan lain

Terungkap 5 kejahatan yang dilakukan seorang guru ngaji di sebuah pesantren di Bandung, Herry Wirawan (36) mulai hamili 12 santriwati hingga jadikan anak yang dilahirkan korban sebagai alat mencari sumbangan.

Aksi tak terpuji Herry Wirawan rupanya memantik kemarahan publik. Tak sedikit netizen mendorong aparat hukum memberikan hukuman kebiri kepada predator anak tersebut.

Emosi para netizen seakan terkuras setelah mengetahui kelakuan Herry Wirawan.

Dari 12 santriwati di bawah umur yang menjadi korban Herry Wirawan, 8 orang di antaranya telah melahirkan.

Satu dari mereka yang melahirkan dua kali. Sedangkan dua korban lainnya, saat ini mengandung benih Herry Wirawan.

Berikut daftar 5 kejahatan yang dilakukan Herry Wirawan kepada 12 santriwatinya seperti dilansir dari TribunnewsBogor.com dengan judul Tak Cuma Bikin Santriwati Hamil, Kelakuan Keji Herry Wirawan Juga Paksa Siswinya Kerja Rodi

  1. Hamili 12 santriwati dari 2016 hingga 2021

Para santriwati yang masih berusia rata-rata 14 tahun diiming-imingi Herry Wirawan akan disekolahkan dan ada pula yang dijanjikan dimasukkan menjadi Polisi Wanita (Polwan).

Herry Wirawan merupakan seorang guru yang juga pengurus yayasan Pesantren di Kota Bandung.

Dia telah menyetubuhi 12 anak didiknya hingga mengandung dan melahirkan anak.

Dari 12 santriwati yang dirudapaksa Herry Wirawan, ada 8 orang yang telah melahirkan anak, dan 2 orang yang tengah mengandung.

Bahkan, diketahui ada yang melahirkan hingga dua kali.

“Salah seorang korban ada yang telah dua kali melahirkan akibat perbuatan terdakwa,” kata Jaksa Kejaksaan Negeri (Kejari) Bandung Agus Mudjoko, dilansir TribunnewsBogor.com dari Kompas.com, Jumat (10/12/2021).

Menurut Agus, beberapa korban ada yang disetubuhi berulang kali.

Belasan santriwati tersebut disetubuhi Herry Wirawan sejak tahun 2016 hingga tahun 2021 dan tak hanya dilakukan di yayasan pesantren yang diurusnya, tapi juga di tempat lainnya seperti apartemen hingga hotel di Kota Bandung.

  1. Anak yang terlahir dijadikan yatim piatu untuk cari sumbangan

Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) Republik Indonesia ikut angkat suara terkait kejadian kemanusiaan tersebut.

Wakil Ketua LPSK RI Livia Istania DF Iskandar mengungkapkan, berdasarkan fakta di persidangan terungkap bahwa anak-anak yang dilahirkan oleh para korban diakui sebagai anak yatim piatu dan dijadikan alat oleh pelaku untuk meminta dana kepada sejumlah pihak.

  1. Dijadikan kuli bangunan

Livia menambahkan, para korban rudapaksa Herry Wirawan itu juga sempat diminta kerja rodi.

Yakni menjadi tukang atau kuli bangunan saat pembangunan pesantren.

“Dan Program Indonesia Pintar (PIP) untuk para korban juga diambil pelaku”

“Salah satu saksi memberikan keterangan bahwa ponpes mendapatkan dana BOS yang penggunananya tidak jelas, serta para korban dipaksa dan dipekerjakan sebagai kuli bangunan saat membangun gedung pesantren di daerah Cibiru,” ucap Livia Istania DF Iskandar.

Berkenaan pada dugaan tersebut, LPSK mendorong Polda Jawa Barat (Jabar) mengungkap adanya eksploitasi ekonomi.

Bukan cuma itu, LPSK juga meminta kejelasan aliran dana dalam kasus pencabulan santriwati yang dilakukan oleh Herry Wirawan.

“LPSK mendorong Polda Jabar juga dapat mengungkapkan dugaan penyalahgunaan, seperti eksploitasi ekonomi serta kejelasan perihal aliran dana yang dilakukan oleh pelaku dapat di proses lebih lanjut,” Wakil Ketua LPSK RI Livia Istania DF Iskandar, dikutip dari Kompas.com, Kamis (9/12/2021).

  1. Salahgunakan sumbangan pemerintah

Selain kejahatan-kejahatan itu, Herry Wirawan juga diduga memakai dana bantuan pemerintah.

Dugaan tersebut diurai oleh Kepala Kejaksaan Tinggi Jawa Barat Asep Mulyana.

Diungkap Asep Mulyana, Herry Wirawan diduga menggunakan dana bantuan pemerintah untuk melancarkan aksi bejatnya di berbagai hotel dan sejumlah apartemen di Kota Bandung.

“Jadi ada dugaan-dugaan kami dari teman-teman intelejen setelah pengumpulan data dan keterangan melalui di penyelidikan bahwa kemudian juga terdakwa menggunakan dana, menyalahgunakan yang berasal dari bantuan pemerintah, untuk kemudian digunakan misalnya katakanlah menyewa apartemen,” ujar Asep Mulyana di Kantor Kejati Jabar, Naripan, Kota Bandung dikutip dari Kompas TV, Jumat (10/12/2021).

  1. Melakukan rudapaksa di berbagai tempat

Seperti diketahui, Herry Wirawan diduga melakukan pemerkosaan terhadap belasan santriwati di beberapa tempat antara lain di yayasan KS, yayasan pesantren TM, pesantren MH, Basecamp terdakwa, apartemen TS, Hotel A, Hotel PP, Hotel BB, Hotel N dan Hotel R.

Atas perbuatan Herry Wirawan, Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jawa Barat menyebut pelaku terancam hukuman 20 tahun penjara.

Plt Asisten Pidana Umum Kejati Jawa Barat Riyono mengatakan HW kini berstatus sebagai terdakwa karena sudah menjalani persidangan.

Herry Wirawan terjerat denga Pasal 81 UU Perlindungan Anak.

“Ancamannya 15 tahun, tapi perlu digarisbawahi di situ ada pemberatan karena sebagai tenaga pendidik, jadi ancamannya menjadi 20 tahun,” kata Riyono dilansir dari Kompas TV, Jumat (10/12/2021).

Dia menjelaskan, aksi bejat Herry Wirawan diduga dilakukan sejak tahun 2016.

Dalam aksinya tersebut, ada sebanyak 12 orang santriwati yang menjadi korban yang pada saat itu masih di bawah umur.

Semua korban merupakan peserta didik di pesantren yang ada di Kota Bandung.

Para santriwati yang menjadi korban Herry Wirawan sudah melahirkan delapan bayi dan tiga yang masih dalam kandungan.

“Mereka ini kan masih kategori anak-anak sehingga tentu saja ada trauma itu, pasti,” ujar Riyono.

sumber : surya.co.id

Ray sekseeh
Author: Ray sekseeh

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.