Beranda Kesehatan Bocah 1,5 Tahun Tewas Setelah Alat Tes Swab COVID-19 Patah di Hidung

Bocah 1,5 Tahun Tewas Setelah Alat Tes Swab COVID-19 Patah di Hidung

0
4

SuratNews.ID | Anak memang berisiko tinggi terinfeksi virus corona. Karena itu, saat si Kecil memiliki gejala, harus segera dicek. Tapi, apa jadinya kalau alat tes swab yang mestinya bisa bantu deteksi COVID-19 malah membahayakan mereka? Inilah yang dialami balita 1,5 tahun di Arab Saudi.

Bocah 1,5 Tahun Meninggal Setelah Alat Tes Swab Patah di Hidung

Peristiwa tragis ini dialami balita 18 bulan yang mengalami demam. Menurut penuturan sang paman, Mosaed al-Joufan, karena suhu tubuhnya tinggi, anak tersebut dibawa ke rumah sakit pada Jumat malam, bersama ibunya.

Karena kondisi demamnya, anak tersebut harus menjalani tes swab. Padahal, kondisi kesehatannya masih tergolong baik.

Sayangnya, alat swab yang digunakan rumah sakit patah di dalam rongga hidungnya. Hal ini membuat dokter memutuskan untuk melakukan operasi dan ia mendapatkan anestasi. Hal ini dilakukan untuk mengambil alat tersebut.

“Saat pukul 1 pagi, mereka memberitahu saya operasi telah selesai dan dokter berhasil mengambil alat swab yang patah itu,” ujar al-Joufan.

Namun pagi harinya, sekitar pukul 09.00, bocah tersebut tak sadarkan diri. Tim medis pun menemukan bahwa dia tidak bernapas, hingga pada akhirnya dinyatakan meninggal dunia.

Peristiwa ini menjadi sorotan di media lokal dan internasional. Tentunya, hal ini membuat Menteri Kesehatan Kerajaan, Tawfiq bin Fawzan al-Rabiah memerintahkan untuk penyeledikan dan pengusutan insiden ini.

Bahkan, pihak kementerian menyampaikan langsung ucapan belasungkawanya kepada orang tua anak tersebut.

Apa Alat Tes Swab Memang Berisiko Patah?

Peristiwa ini mungkin bikin sebagian orang tua ngeri hal yang sama dapat menimpa buah hati mereka. Pertanyaan yang kemudian muncul, apakah alat tes swab berbahaya, terkhusus bagi anak-anak?

Menjawab hal tersebut, dr. Devia Irine Putri menjelaskan, sebenarnya kalau caranya benar, alat swab itu tidak patah.

Kecuali memang ada beberapa kondisi, baik dari petugas yang melakukan swab dan pasiennya, baru bisa menjadi masalah serius.

“Bentuknya alat swab itu seperti cotton bud tapi panjang. Harusnya kalau cara swab-nya benar, tidak akan patah. Tapi kalau cara swab-nya tidak hati-hati dan terlalu ditekan, pasiennya banyak gerak, atau memberontak, risiko patah bisa saja terjadi,” ungkap dr. Devia kepada KlikDokter.

Perlukah Operasi untuk Ambil Alat Tes Swab yang Tertinggal?

Soal ini, dr. Devia mengatakan memang operasi adalah jalan yang tepat saat ada alat swab patah dan tertinggal di tubuh. Tindakan ini sekaligus untuk melihat apakah ada masalah lainnya atau tidak.

Dia juga menyarankan agar Anda tidak menyepelekan kondisi tersebut karena berhubungan dengan pernapasan. Sangat perlu untuk melakukan tindakan medis agar tidak ada bahaya yang muncul di kemudian hari.

“Iya, apalagi kalau anak-anak, harus masuk ruang operasi buat ambil patahannya. Sekalian periksa ada perdarahan atau enggak. Kalau ada, dokter bisa langsung mengatasinya,” tegas dr. Devia Irine.

Ini yang Orang Tua Harus Tahu Saat Ajak Anak Lakukan Tes Swab

Jangan sembarangan membawa anak ke rumah sakit untuk tes swab saat mereka menunjukkan gejala COVID-19. Sebenarnya, sebagai orang tua Anda harus tahu apa saja yang akan terjadi kalau swab.

Rasanya memang tidak akan nyaman kalau di-swab. Tes tersebut bahkan bisa menyebabkan refleks muntah. Hal tersebut, menurut dr. Devia, adalah wajar.

“Harus ada informed consent secara lisan dan tertulis. Dijelaskan bahwa tes swab ini mau mengambil sampel atau apusan dari bagian hidung dalam maupun di belakang mulut,” kata dr. Devia Irine.

“Memang agak tidak nyaman karena menggunakan alat seperti cotton bud masuk. Selain itu, mungkin akan timbul refleks muntah. Komplikasi yang mungkin terjadi kalau ada iritasi akibat masuknya alat tes swab. Iritasi ini bisa saja menyebabkan keluarnya darah,” jelas dr. Devia Irine.

Tips Saat Ajak Anak Lakukan Tes Swab

Itu sebabnya, Anda perlu tips dan trik khusus saat membawa si Kecil untuk tes swab virus corona. Tips itu adalah:

Kalau anaknya masih bayi, dibedong saja biar kaki tangannya agar tidak menghalangi pemeriksaan.

Kalau anak-anak usia 3 tahun ke atas atau sudah sekolah, jelaskan pelan-pelan kalau akan diperiksa hidung dan mulutnya oleh dokter.

Jelaskan juga kalau dokter dan perawat yang pakai baju putih dan penutup mata itu baik dan tidak menakutkan. Gunakan bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti anak, ya.

Sewaktu pemeriksaan, sebagai orang tua Anda bisa menemaninya. Bisa dengan memangku anak kemudian mendongakkan kepalanya, sembari kaki anak dijepit dengan kaki Anda. Jadi, dokter bisa langsung lakukan tes.

Alihkan perhatian si Kecil, misalnya dengan film kartun, mainan, atau hal yang lainnya yang disukai anak.

Berikan reward atau hadiah saat anak menyelesaikan pemeriksaan dengan baik. Misalnya boleh makan cokelat, es krim, atau main video game setelah tes swab virus corona dilakukan.

Peristiwa yang menimpa bocah 1,5 tahun di Arab Saudi memang bikin miris semua orang. Akan tetapi, Anda bisa menghindari kejadian serupa menimpa anak dengan tips-tips di atas.

sumber : klikdokter.com

(0)

Ray sekseeh
Author: Ray sekseeh

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here