Ancaman Varian Omicron

SuratNews.ID | Munculnya virus corona varian Omicron meningkatkan kewaspadaan sejumlah negara di dunia, termasuk Indonesia. Pengetatan pintu masuk dilakukan, demi mencegah penularan varian baru yang pertama kali ditemukan di Afrika Selatan itu.

Amerika Serikat, Inggris, Jerman, Italia, Australia, hingga Indonesia dan masih banyak negara lainnya membatasi penerbangan dari negara-negara selatan Afrika.

Memangnya, seberapa menakutkannya varian Omicron ini?

Hasil penelitian terkini varian Omicron yang dilakukan oleh World Health Organization (WHO) masih belum bisa menghasilkan kesimpulan apakah varian ini lebih berbahaya dari varian yang sudah ada sebelumnya.

“Belum jelas apakah infeksi Omicron menyebabkan penyakit yang lebih parah dibandingkan dengan infeksi varian lain, termasuk Delta,” tulis WHO dalam keterangan resmi, dikutip kumparan pada Senin (29/11).

Meski mengamini bahwa seiring adanya varian Omicron ini, kasus baru di Afrika Selatan kian bertambah, tetapi WHO belum memastikan apakah hal tersebut berkaitan dengan varian Omicron ini.

“Data awal menunjukkan bahwa ada peningkatan tingkat rawat inap di Afrika Selatan, tetapi ini mungkin karena meningkatnya jumlah keseluruhan orang yang terinfeksi, bukan akibat infeksi spesifik dengan Omicron,” jelas WHO.

Diketahui, saat ini Omicron sudah diklasifikasikan sebagai Varian of Concern (VOC) oleh WHO karena memiliki mutasi yang banyak dan mengkhawatirkan.

Gejala Ringan

Namun demikian, WHO juga menyebutkan bahwa sejumlah kasus awal Omicron yang ditemukan pada anak muda ternyata bergejala lebih ringan. Gejala ringan yang dimaksud antara lain batuk, sakit tenggorokan, hingga pegal-pegal.

Hal senada juga disampaikan oleh Ketua Asosiasi Medis Afrika Selatan, Dr Angelique Coetzee, yang menyebutkan bahwa gejala yang ditimbulkan dari virus corona varian Omicron cenderung ringan.

Coetzee mengatakan seorang pasien pada 18 November melaporkan di kliniknya “sangat lelah” selama dua hari dengan nyeri tubuh dan sakit kepala.

“Gejala pada tahap itu sangat terkait dengan infeksi virus normal. Dan karena kami belum melihat COVID-19 selama delapan hingga 10 minggu terakhir, kami memutuskan untuk melakukan tes,” katanya kepada Reuters.

Masih menurut keterangan dari Coetzee, fakta bahwa varian Omicron ini menyebabkan gejala yang ringan terlihat dari pasien yang dirawat di rumah sakit.

Setidaknya ia menemukan hanya ada satu pasien yang dirawat dengan bantuan ventilator di salah satu rumah sakit besar di Afrika Selatan. Namun itu juga belum diketahui terkait dengan varian apa.

“Melihat ringannya gejala yang kita lihat, saat ini tidak ada alasan untuk panik. Karena kita tidak melihat pasien yang sakit parah,” kata dia.

Masih Butuh Waktu Teliti Omicron

Masih dibutuhkan waktu untuk meneliti varian baru ini. Setidaknya kesimpulan itu diambil dari temuan-temuan yang disampaikan oleh WHO yang masih belum pasti.

Selain WHO dan Afsel, negara-negara lain pun tengah meneliti varian ini. Salah satunya Amerika Serikat.

Pejabat tinggi penyakit menular AS, Dr. Anthony Fauci, mengatakan kepada Presiden Joe Biden mereka membutuhkan waktu sekitar dua minggu untuk mendapatkan informasi pasti tentang varian Omicron.

Namun Fauci meyakini vaksin yang ada saat ini kemungkinan akan memberikan perlindungan terhadap gejala parah.

“Biden akan memberi tahu publik tentang varian baru dan tanggapan AS pada Senin,” kata Gedung Putih dikutip dari Reuters, Senin (29/11).

Selain meneliti Omicron, perusahaan vaksin juga mulai mewacanakan untuk membuat vaksin khusus melawan varian baru ini. Salah satunya seperti yang disampaikan oleh Sinovac, tetapi jika diperlukan.

“Teknologi dan produksinya sama [dengan virus leluhur] dan vaksin untuk penelitian dapat disiapkan dengan sangat cepat setelah strain diisolasi. Produksi tidak menjadi masalah,” kata Sinovac kepada South China Morning Post (29/11).

“Tetapi studi yang relevan perlu diselesaikan dan vaksin baru disetujui untuk digunakan sesuai dengan persyaratan peraturan. Masih terlalu dini untuk mengatakan apakah vaksin terpisah perlu dikembangkan dan diproduksi untuk varian ini,” lanjutnya.

Selain itu, Sinovac juga mengatakan tengah mengumpulkan sampel yang berkaitan dengan varian Omicron. Sampel-sampel tersebut nantinya berguna untuk melihat apakah dibutuhkan vaksin baru.

“Jika perlu, kami akan dapat dengan cepat memajukan pengembangan dan meluncurkan produksi vaksin baru secara besar-besaran untuk memenuhi permintaan,” jelas Sinovac.

Langkah Antisipasi Indonesia

Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin angka bicara soal varian Omicron ini. Dia mengatakan, terkini, terdapat 128 kasus konfirmasi positif yang ada di 9 negara. Ditambah lagi dengan sejumlah kasus probable di 4 negara sehingga total menjadi 14 negara.

Penyebaran mutasi COVID-19 ini paling mudah dibawa oleh orang yang melakukan perjalanan luar negeri. Pemerintah telah melihat risiko tersebut dari sejumlah negara yang paling banyak penerbangannya ke Indonesia.

“Risiko penerbangan paling banyak ke Indonesia adalah negara dari Hongkong, Italia, Inggris, baru Afrika Selatan. Ini penerbangan sering ke kita,” kata Menkes dalam keterangan pers virtual, dikutip kumparan pada Senin (29/11).

Dengan risiko tersebut, pemerintah telah menetapkan kebijakan pembatasan kedatangan dari luar negeri. Terdapat 11 negara yang dibatasi kedatangannya yakni Afrika Selatan, Botswana, Namibia, Zimbabwe, Lesotho, Mozambique, Eswatini, Malawi, Angola, Zambia, dan Hong Kong.

Direktorat Jenderal Imigrasi juga menangguhkan pemberian visa kunjungan dan visa tinggal terbatas bagi sejumlah negara yang sudah mengidentifikasi virus corona varian Omicron. Penangguhan visa tersebut diberlakukan untuk warga dari 11 negara yang diberlakukan pembatasan.

WNA yang memiliki riwayat perjalanan selama 14 hari terakhir ke Afrika Selatan, Botswana, Namibia, Zimbabwe, Lesotho, Mozambique, Eswatini, Malawi, Angola, Zambia, dan Hongkong, tidak boleh masuk ke Indonesia.

Selain itu, sebagai antisipasi tambahan, bagi WNA dan WNI yang tiba dari luar negeri di luar negara tersebut diwajibkan menjalani karantina 7 hari.

Selain pembatasan, perlindungan dengan vaksinasi dan booster pun digaungkan sejumlah pihak perlu untuk dilakukan. Bahkan WHO sendiri meminta seluruh negara di dunia untuk mempercepat vaksinasi terhadap kelompok prioritas. Hal itu diyakini dapat mengantisipasi lonjakan kasus.

“Omicron punya mutasi spike yang belum pernah terlihat sebelumnya, beberapa yang kami khawatirkan dampaknya pada lintasan pandemi,” ucap WHO seperti dikutip dari Reuters.

“Risiko global terkait varian baru ini berdasarkan penilaian kami adalah sangat tinggi,” sambung mereka.

sumber : kumparan.com

Ray sekseeh
Author: Ray sekseeh

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.